Jumat, 06 Mei 2016

Sepintas Kisah Ahmad, Mirza Ghulam (Qadian, India 1255 H/1839 M-Qadian, 24 Rabiulakhir 1326/26 Mei 1908)

AHMAD, MIRZA GHULAM. 

      Pendiri dan pemimpin gerakan *Ahmadiyah yang berpusat mula-mula di Qadian, Gurdaspur (India). Pemikiran-pemikiran dalam bidang agama menjadi sekter Ahmadiyah. Para Pengikutnya dari kelompok Qadiani menganggapnya nabi, sedangkan kelompok Lahore menganggapnya mujadid (pembaru). Gelar "Mirza" menunjukkan bahwa dia termasuk keluarga bangsawan keturunan Dinasti *Mogul. Nenek moyangnya mempunyai hubungan keluarga dengan Zahiruddin Muhammad Babur, pendiri Dinasti Mogul (1526-1530). Ayahnya adalah Hakim Pemerintahan Kolonial Inggris di India.

         Semasa Kecil ahmad mendapat pendidikan agama secara tradisional dari keluarganya. Ia juga belajar bahasa Arab dan Persia. ia senang melakukan Meditasi sejak usia Muda. dalam keadaan seperti itu ia mengaku sering mendapat petunjuk langsung dari Allah SWT, seperti mendapat *Makhrifat dalam Dunia Sufi, tetapi ia sendiri tidak pernah di Kenal sebagai sufi atau murid dari seorang Guru Sufi. ketika berusia 40 Tahun (1880), ia menulis buku 'Baraahiin-i Ahmadiyah' (Argumentasi-argumentasi Ahmadiyah) yang berisi, Antara lain pengakuan dirinya sebagai Seorang al-Mahdi.

         Pada masa mudanya Ahmad pernah tinggal di Sialkot (india), mengikuti ayahnya yang sedang menyelesaikan perkara tanah. Disinilah ia berkenalan dengan orang-orang Kristen, mempelajari kitab sucinya, Injil dan menyaksikan langsung betapa Gencarnya misi Kristenisasi. Di tempat ini pula ia membaca komentar-komentar Sir Sayid* Ahmad Khan, antara lain mengenai Genesis dan Tafsir Al-Qur'an. Ahmad kemudian mengkritik Tafsir Al-Qur'an tersebut karena ia memandang Tafsir itu menggunakan pendekatan Naturalistik (hukum alam, misalnya malaikat di tafsirkan sebagai fungsi hukum alam). Menurutnya tulisan-tulisan Ahmad Khan terlalu apologetik dan membanggakan kejayaan yang masa lampau, padahal yang harus di hadapi adalah keadaan objektif masa kini.

     Ketika ayahnya wafat pada tahun 1876, Ahmad kembali ke Qadian, mengurus tanah milik keluarganya dan meneruskan kebiasaan lamanya, yaitu meditasi. Tahun 1877, di Punjab (India) ia menyaksikan kebangkitan Arya Samaj dan Brahma Samaj, yaitu Gerakan kesadaran umat Hindu. Peristiwa yang di saksikannya di Sialkot dan Punjab menimbulkan semangat Ahmad untuk membangkitkan suatu gerakan dalam Islam.

     Pada tanggal 4 Maret 1889, Ahmad mengumumkan bahwa dirinya menerima wahyu langsung dari Allah SWT yang menunjuk dirinya sebagai al-Mahdi dan memberi petunjuk agar manusia melakukan baiat kepadanya. Baiat pertama di lakukan oleh 20 orang pengikutnya di Laudiana, dekat Qadian, India. salah seorang di antara mereka adalah Maulwi (gelar Kehormatan:paduka/yang mulia) Nuruddin, yang kelak menjadi Khalifa pertama sepeninggalan Ahmad.

       Pada tanggal 1891, Ahmad membuat pengakuan yang menghebohkan. ia mengaku sebagai al-Masih al-Mau'ud (Al-masih yang di janjikan). Dengan pengakuan dirinya sebagai Al-Mahdi dan al-Masih al-mau'ud, Ahmad seakan-akan hendak menjembatani ajaran Kristen dan Islam.

    Sebagai orang Islam, Ahmad Mengakui kerasulan Muhammad SAW. sementara ia tetap berpendapat bahwa Yesus Kristus (dalam  agama Islam di sebut Isa al-masih) tidak meninggal di tiang salib karena segera di tolong dan di rawat oleh pengikutinya. Yesus kemudian mengadakan perjalanan ke TImur dan hidup sebagaimana layakanya manusia biasa hingga akhirnya menetap dan wafat di Kashmir, India. Kuburuannya sekarang terdapat di Khan Yar, Sri Nagar India. Para pengikut Ahmad membuat teori dengan pembuktian ilmiah untuk memperkuat pendapatnya tersebut.

     Pemikiran-pemikiran Ahmad di tentang oleh para ulama, terutama ulama "Suni, seperti Abdul Haqq al-Gaznawi (seorang Maulwi Amritsar), Muhammad Husain (Tokoh Ahlulhadis dari Batala), dan Mullah Muhammad Bakhs (Ulama dari Lahore). Perdebatan di antara mereka tidak hanya dalam persoalan Agama, tetapi meluas ke masalah Politik.  Ahmad, sebagaimana Ahmad Khan, berpendapat bahwa jika umat Islam India ingin maju harus bersatu dengan Inggris. Adapun ulama-ulama lain berpendapat bahwa Inggris adalah penjajah, Kafir dan harus di usir dari India.

     Buku - buku yang pernah di tulis Ahmad kemudian menjadi pegangan sekte Ahmadiyah. karya-karyanya tersebut ialah Baraahiin-i-Ahmadiyah, Fath-i Ilam (Penakluk Islam), Masiih Hindustan Man (Seorang Hindustan yang Suci), Khasyiful Ghitaa (Tersingkapnya Penutup), Izala-i Ahwam, Mawahib ar-Rahman (pemberian Tuhan), Haqiiqat al-wahyi (Hakikat wahyu), dan al-Wasiyah (Wasiat). Demikian pula dengan artikel-artikelnya dalam harian al-Hakam.

        Sepeninggalan Ahmad, Kepemimpinan kelompok ini di pegang oleh Maulwi Nuruddin sebagai Khalifa Pertama. Ketika ia meninggal pada tahun 1914, Kepemimpinan di pegang oleh Mirza Basiruddin Mahmud Ahmad, putra Ahmad, sebagai Khalifah kedua yang berkedudukan di Qadian. Kelompok inilah yang menganggap Ahmad sebagai nabi. Adapun kelompok pengikutnya yang di pimpin Kwaja Kamaluddin  dan Maulwi Muhammad Ali hanya menganggapnya sebagai seorang mujadid (pembaru). Karena itu mereka memisahkan diri dan memusatkan kegiatan di Lahore.

        Konferensi Organisasi-organisasi Islam se-Dunia pada tanggal 6-10 April 1974, di bawah anjuran *Rabitah al-Alam al-Islami, merekomendasikan antara lain: (1) Setiap Lembaga Islam Harus melokalisasikan kegiatan Kelompok Qadiani dalam tempat Ibadah, sekolah, panti dan semua tempat kegiatan mereka yang destruktif; (2) Menyatakan Sekte Ahmadiyah Kafir dan Keluar dari Islam; (3) Memutuskan segala Hubungan Bisnis dan Melaksanakan pemboikotan ekonomi, sosial dan budaya terhadap mereka; (4) Mendesak pemerintah-pemerintah Islam untuk melarang setiap kegiatan pengikut Mirza Ghulam Ahmad dan menganggap mereka sebagai minoritas non-Islam serta melarang mereka memangku jabatan yang penting dalam Negara; (5) Menyiarkan salinan semua penerbitan yang dijadikan sekte sebagai tempat penyelewengan ayat-ayat Al-Qur'an; dan (6) Semua golongan yang menyelewengkan Islam di perlakukan sama seperti Qadiani.

      Pada tanggal 29 Mei 1974, pengikut Mirza Ghulam Ahmad di bawah Pimpinan Mirza Basiruddin Mahmud Ahmad yang berjumlah 3.000 orang menyerbu kereta Api dari Peshawar ke Karachi dari stasiun Rabwah dan membantai penumpangnya, antara lain 170 mahasiswa Fakultas Kedokteran Nisytar di Multan. sebagian besar mahasiswa itu adalah pendukung Islam Jam'iyah at-Talabah. peristiwa ini menggemparkan Umat Islam seluruh Dunia.


     Demikianlah sepintas kisah Mirza Ghulam Ahmad, dan Asal mula sekte Ahmadiyah! semoga para pembaca di berikan kesadaran dan pemahaman yang mendalam tentang Islam yang baik dan menjauhkan diri dari ajaran Kelompok atau Golongan yang menyelewengkan Islam dan tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist!

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar